Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang politik, hukum, dan keamanan.

MENKOPOLHUKAM

profil

Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan (lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara, 28 September 1947; umur 68 tahun) adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia saat ini. Ia juga menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia sejak 31 Desember 2014 hingga 2 September 2015.

Pada 12 Agustus 2015 ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno.

MEDIA SOSIAL

Unable to display Facebook posts.
Show error

Error: (#803) Some of the aliases you requested do not exist: Kemenko-Polhukam-RI-1893260450900294
Type: OAuthException
Code: 803
Please refer to our Error Message Reference.

Ketika sowan ke pondok-pondok pesantren, saya menikmati silaturahmi dengan masyarakat banyak. Saya juga menikmati doa-doa yang mereka berikan. Kesederhanaan hidup mereka membuat saya merefleksikan diri, seperti cermin yang selalu mengingatkan.

Perasaan yang sama juga saya rasakan saat mengunjungi Ponpes Asy-Syafi’iyyah di Indramayu dan Ponpes Assalafiyah Luwungragi di Brebes pada hari Jumat lalu.

Bersama Kapolri Pak Badrodin Haiti, kami menerima sambutan yang hangat dari KH Afandi Abdul Muin Syafi’i, KH Subhan Ma'mun, serta dari masyarakat sekitar, para santri dan pengasuh ponpes.

Kehadiran mereka sangatlah penting. Sebabnya, selama ini ponpes berperan sangat besar dalam menyelamatkan moralitas Bangsa Indonesia, tak terkecuali dari ancaman penyalahgunaan narkoba.

Saya menitipkan pesan kepada mereka dan kita semua, untuk terus memelihara kerukunan antar sesama demi kedamaian dan harmoni di Negara kita. Dengan demikian kita dapat mendukung program pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan bersama.
... See MoreSee Less

View on Facebook

Di atas kapal perang KRI Imam Bonjol – 383, kemarin saya bersama rombongan Presiden mengarungi perairan Natuna. Sembari memandangi luasnya lautan, saya membayangkan hebatnya kemaharajaan bahari Kerajaan Sriwijaya dulu di abad ke-7 di wilayah itu. Konon, besarnya pengaruh kekuasaan Sriwijaya sampai mencapai pulau Madagaskar.

Pada zaman itu, seorang pendeta Tiongkok bernama I Tsing melakukan perjalanan di Laut China Selatan. Dia singgah di beberapa pulau, termasuk di sebuah pulau besar yang disebutnya sebagai Nan (pulau) Toa (besar). Sekarang, kita menyebutnya dengan Pulau Natuna.

Dari segi luas pulau, Natuna sebenarnya tidak tergolong besar. Tapi dari segi ekonomi, Natuna menyimpan potensi yang sangat besar. Misalnya di sektor energi, di wilayah perairannya terdapat 16 blok sumber gas, 5 di antaranya sudah berproduksi dan 11 lainnya berada dalam tahap eksplorasi.

Sektor perikanan juga menyimpan potensi yang besar sehingga Presiden mempertimbangkan untuk men-transfer 6.000 kapal dari Jawa yang kurang produktif. Hal ini tentu saja akan dilakukan dengan tidak mengurangi hak nelayan-nelayan setempat untuk mencari ikan.

Industri ikan akan ditingkatkan tidak hanya dengan sebatas mengambil ikan, tapi juga dengan pemrosesan di dalam negeri. Kita terbuka untuk melakukan kerja sama dengan siapa saja, dengan negara mana saja, selama dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Natuna. Maka dari itu pemerintah tidak ingin Natuna berubah menjadi kawasan konflik supaya tidak mengganggu upaya pengembangan potensi ekonominya.

Kehadiran Presiden di Natuna boleh saja dimaknai sebagai pemberian sinyal kepada dunia bahwa Indonesia dengan tegas mempertahankan hak teritorialnya. Tapi seperti layaknya kebesaran Kerajaan Sriwijaya yang ditopang dengan diplomasi yang kuat dengan Timur Tengah, India, dan Tiongkok di zaman itu, Indonesia juga tetap akan memelihara hubungan baik dengan negara manapun.

Meskipun demikian, bukan berarti Indonesia akan berkompromi terhadap kedaulatan kita. Tidak akan pernah!

Untuk itu, marilah kita dukung Presiden Jokowi, khususnya TNI-AL dalam mempertahankan kejayaan di lautan Nusantara yang kita cintai bersama ini, seperti pada masa keemasan Sriwijaya.

Jalesveva Jayamahe!
... See MoreSee Less

View on Facebook

Di usia 24 tahun, saya dipercaya untuk memimpin pasukan sebagai komandan peleton. Dan di usia 27 tahun, saya menjadi komandan kompi. Ketika itu, saya tidak bisa menghindari situasi di mana saya harus memimpin sebagian anggota yang lebih senior.

Mungkin ada sebagian orang yang menganggap bahwa usia muda merupakan kendala untuk memimpin. Kenyataannya, waktu itu saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam memimpin yang lebih senior. Rahasia suksesnya, saya menghormati mereka.

Anggapan yang sama juga muncul ketika Presiden Jokowi memilih Komjen Tito sebagai calon Kapolri di usia yang masih relatif muda untuk jabatan tersebut.

Padahal, kondisi seperti ini sebenarnya sudah biasa terjadi di lingkungan TNI dan Polri. Kami Kompolnas menjelaskan hal tersebut di Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR hari Selasa lalu yang juga dihadiri oleh 5 Ketua KPK, Kepala PPATK, Menkumham, termasuk Pak Bekto sebagai Komisioner Kompolnas yang pernah menjadi komandan Pak Tito.

Kepada anak-anak muda, janganlah kalian merasa tidak percaya diri dalam memimpin. Tapi saya juga bertitip pesan agar kalian sejak kecil belajar untuk menghormati yang lebih tua. Janganlah ada rasa, “Wah saya sudah memegang jabatan, kau harus nurut!” Justru kita harus menemukan cara untuk membuat orang melaksanakan perintah kita tanpa dia merasa bahwa dia diperintah oleh yang lebih muda.

Untuk dapat melakukan hal seperti itu memang diperlukan seni. Karena leadership bukan saja mengandung unsur science, tapi juga seni.

Akhir kata, bagi para pemimpin saya mengimbau memimpinlah dengan ketauladanan sehingga Saudara-Saudari akan dihormati oleh seluruh anak buahmu. Dengan team work yang kuat, tujuan kita akan tercapai.

Selamat memimpin!
... See MoreSee Less

View on Facebook

Saya ingin mendorong masyarakat asli Papua untuk dapat berperan lebih aktif dalam pembangunan Papua. Untuk itulah minggu lalu saya berkunjung ke provinsi ini.

Selama 3 hari, saya bersama Kepala Bappenas Pak Sofyan Djalil menemui dan mendengarkan banyak sekali masukan masyarakat di Jayapura, Wamena, Merauke, dan Manokwari. Dalam beberapa rangkaian pertemuan, kami berdialog dengan ratusan masyarakat Papua yang merupakan pemimpin adat, pemuda adat, pemuka agama, LSM, kalangan militer, kepolisian, pemda, mahasiswa, dan para rektor.

Dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat asli Papua, ada beberapa hal yang saya lakukan, diantaranya menawarkan mereka untuk bergabung dengan tim terpadu penyelesaian kasus-kasus HAM di Papua.

Jika masyarakat menyambut tawaran ini, maka jumlah orang Papua yang terlibat akan bertambah setidaknya 2 orang lagi. Pada awal pembentukannya, saya sudah memasukkan 8 orang penggiat HAM Papua menjadi bagian dari tim berdasarkan Keputusan Menko Polhukam No. 40 Tahun 2016, tertanggal 16 Mei 2016. Penyelesaian masalah HAM adalah salah satu bagian dari pembangunan Papua secara holistik.

Tim akan bekerja dengan data, bukan dengan perasaan saja. Karena untuk memajukan Papua tidak bisa hanya dengan marah-marah saja.

Seluruh lapisan masyarakat harus terlibat! Dan agar upaya ini berhasil, saya mengimbau mari kita semua menghilangkan rasa saling curiga demi Papua yang lebih baik.

Baca lebih lanjut 3 rilis resmi Kemenko Polhukam mengenai kunjungan ke Papua tersebut di: www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1946947868864885&id=1893260450900294
... See MoreSee Less

View on Facebook

Beberapa hari lalu, razia terhadap warung Ibu Zaeni menjadi viral di media. Agar kejadian ini tidak terulang lagi, saya mengimbau kepada saudara-saudara marilah kita saling menghormati dan menahan diri di bulan puasa ini.

Bicara tentang puasa, saya teringat kepada salah seorang anak buah yang rajin berpuasa walau saat sedang berada di tengah medan perang. Namanya, Sersan Mayor Durman, Caraka saya di Kompi A Denpur-1/Parako dalam operasi tempur di Timor Portugis tahun 1975 – 1976.

Sepanjang berlangsungnya operasi, sebagai seorang muslim Durman tetap menjalankan ibadah puasa. Berpuluh kg beratnya ransel di punggung, tidak pernah membatalkan niatnya untuk terus berpuasa.

Kala itu, perlengkapan yang dibawa setiap prajurit memang cukup berat. Beberapa diantaranya berupa senapan otomatis AK-47, 750 butir peluru kaliber 7,62 mm, 3 magasin lengkung, 2 granat, bekal makan untuk beberapa hari, baju loreng, kaos, sepatu lapangan, dan topi rimba. Belum lagi setiap regu masih harus membawa senapan mesin RPD, peluncur roket RPG-2 buatan Yugoslavia, 60 peluru roket 90 mm, penyembur api lengkap dengan 5 mortir dan 18 butir peluru.

Operasi yang kami jalankan adalah operasi yang cukup berat dan banyak merenggut korban. Kami di Kompi A mengawali operasi ini pada tanggal 7 Desember 1975 dengan kekuatan 110 orang prajurit. Tapi pada Maret 1976, jumlahnya bersisa menjadi 80 orang saja.

Selama 5 bulan operasi, kompi kami melakukan pertempuran setiap hari. Fierce battle istilahnya. Pertempuran berhadapan dengan pasukan Fretilin yang mempunyai motivasi tempur tinggi, kemampuan serta disiplin menembak prima, dan menguasai medan dengan sempurna.

Di tengah operasi yang melelahkan tersebut selalu ada waktu untuk istirahat makan. Yang kami makan adalah bekal makanan kaleng T-1. Setiap siang Durman dengan setianya membukakan kaleng makanan dan menyodorkannya kepada saya. Ada kalanya juga kami memasak makanan sendiri ketika merasa bosan dengan menu ransum tempur itu. Namun apapun menu kami, Durman tetap berpuasa dan tidak pernah batal.

Penasaran, saya pun bertanya kenapa dia tetap berpuasa di tengah kondisi seperti ini.

“Biar lebih dekat dengan Tuhan,” jawabannya yang tidak pernah saya lupakan. Jawaban itu seolah menunjukkan betapa fokusnya dia pada hubungan dengan Tuhan-nya. Tapi bagi saya, Durman juga telah menunjukkan penghormatannya kepada tugas negara dan atasannya dengan tetap bertempur dan menyediakan makanan bagi saya selaku komandannya di Kompi A. Hebat!

Anak buah saya ini sekarang tinggal di Banten. Terakhir kami bertemu di acara reuni tahun lalu di Cijantung. Jika ada kesempatan, saya ingin Durman dapat menceritakan pengalamannya kepada Saudara-Saudari sekalian sehingga kita dapat belajar bahwa betapa indahnya harmoni di Negeri ini jika kita dapat saling menghormati.

Saya percaya, menghormati sesama manusia adalah juga bagian dari ibadah.

Semoga bulan Ramadhan ini dapat kita lalui dengan damai.
... See MoreSee Less

View on Facebook

DOKUMEN