Monday, September 06, 2010    
Profil  

Marsekal TNI (Purn.) Djoko Suyanto (lahir di Madiun, Jawa Timur, 2 Desember 1950; umur 58 tahun) adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia pernah menjabat Panglima Tentara Nasional Indonesia dari 13 Februari 2006 sampai 28 Desember 2007. Ia digantikan oleh Jenderal TNI Djoko Santoso. Ia mulai menjabat sejak dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 13 Februari 2006 dan serah terima jabatan dari Jenderal TNI Endriartono Sutarto pada 20 Februari 2006.Dari 23 Februari 2005 hingga 13 Februari 2006, ia adalah Kepala Staf TNI Angkatan Udara (TNI-AU). Ia juga merupakan Panglima TNI pertama yang berasal dari kesatuan TNI-AU sepanjang sejarah Indonesia. Suyanto adalah lulusan Akabri (di Akademi Angkatan Udara) tahun 1973, sama dengan Laksamana Slamet Soebijanto (Kepala Staf Angkatan Laut), Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto, Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Endang Suwarya, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia adalah penerbang pesawat tempur F-5 Tiger II yang berpangkalan di Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi, Madiun. Suyanto pernah mengikuti kursus di USAF Fighter Weapon Instructor School di Pangkalan Udara Nellis, Las Vegas, Nevada. Ia kemudian berturut-turut menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 14, Komandan Lanud Iswahyudi, Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional, Komandan    Komando Pendidikan TNI-AU, Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Udara, dan kemudian Kepala Staf TNI-AU sebelum akhirnya menjadi Panglima TNI. Setelah lulus proses fit & proper    test di DPR, Djoko dilantik sebagai Panglima TNI oleh Presiden pada 13 Februari 2006. Dua pekerjaan rumah bagi Djoko Suyanto adalah perihal kesejahteraan prajurit seiring dengan banyaknya tuntutan agar TNI melepaskan semua bisnisnya kepada pemerintah dan persoalan pro dan kontra hak pilih TNI pada pemilihan umum tahun 2009. 

Marsekal Djoko Suyanto, Sosok Low Profile

Seorang remaja yang tinggal di  Jl. Srindit, Sleko, Madiun, Jawa Tengah bercita-cita ingin jadi prajurit TNI Angkatan Udara. Ia adalah putra Bapak Suparno, anggota TNI AU yang bertugas di Lanud Iswahjudi dengan pangkat terakhir mayor. Remaja itu adalah Djoko Suyanto. Sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, Djoko adalah satu-satunya yang mengikuti sejak ayahnya menjadi prajurit TNI AU. Djoko Suyanto sejak remaja sudah menunjukkan sifat penyabar, ramah, low profile dan punya kesertiakawanan sosial yang tinggi. Sebagai contoh, kalau ada kawan dekat sesama siswa SMA tidak masuk, ia mau meminjamkan catatan pelajaran di sekolah. Bahkan adakalanya mau membantu mencatatkan baik kepada kawan laki-laki maupun perempuan.

Ijazah Tertinggal

Begitu besarnya keinginan menjadi prajurit TNI AU, lulus SMAN 2 Madiun Djoko langsung pergi ke Lanud Adisutjipto, Yohyakarta untuk melamar menjadi Taruna TNI Angkatan Udara. Suatu ketika setelah selesai ujian, ketahuan bahwa ijazah  SMA-nya ketinggalan di rumahnya. Seketika itu juga oleh salah satu tim pengujinya, Djoko disuruh pulang ke Madiun untuk sambil Ijazah. "Saya langsung menyuruh Djoko untuk segera mengambil ijazah di rumahnya, di Madiun. Sebab saat itu tinggal ijazahnya yang belum dikumpulkan. Beberapa tahun kemudian setelah pangkat bintang menempel di pundaknya, pernah Marsekal Djoko Suyanto ketemu saya. Ia mengatakan bahwa ia tidak pernah lupa soal ijazah yang ketinggalan itu. Djoko bilang, kalau ijazahnya tidak diambil sesuai perintah Mas Darodji, maka ia tidak akan pernah menjadi marsekal," demikian tutur Lettu Pur. M. Darodji Zamroni kepada penulis, Rabu (18/1) sore hari. Darodji adalah mantan alumni Nenggala India jurusan Foto Mechanic angkatan II di Tambaram, Madras. Ia satu angkatan dengan penulis yang sekolahnya di Jalahalli East, Bangalore, tahun 1960-1962. Selama bertugas, perwira penerbang Djoko Suyanto sering bertemu dengan Darodji dalam skadron atau satuan lainnya. Yang tentu saja Darodji kemudian malah menjadi anak buahnya. Salah satu contoh, waktu Letkol Pnb Djoko Suyanto sebagai Komandan Skadron Udara F-5, Darodji pernah memodifikasi dan memasang kamera pada pesawat tersebut.

Kepedulian tinggi

Marsekal Djoko Suyanto punya kepedulian dan perhatian besar  terhadap para Alumni Nenggala India.  Nenggala India adalah suatu pendidikan  calon bintara teknik udara di India. Waktu itu sebanyak 1.690 siswa calon bintara teknik TNI AU dikirim secara bergelombang dari tahun 1960-1962 ke Bangalore dan Madras, India. Banyak dukungan moril dan semangat yang diberikan Djoko Suyanto kepada para alumni Nenggala yang tergabung dalam Paguyuban Alumni Nenggala India. Katika Marsekal Muda Djoko Suyanto menjabat sebagai Komandan Komando Pendidikan TNI AU (Kodikau), ia menandatangani Monumen Alumni Nenggala India di Jakarta dan juga meresmikan monumen tersebut di Lanud Adisumarmo. Di depan sekitar 500 orang alumni Nenggala dan keluarganya, Marsekal Djoko Suyanto menyuruh penulis untuk menulis Buku Pengabdian Alumni Neggara India. Usai meresmikan monumen pada acara  makan siang, penulis melantunkan lagu gending dari Campur Sari berjudul Bowo Ngidam Sari. Usai penulis menyanyi, Marsekal Djoko Suyanto pegang microphone sambil berkata, " Saya tidak mau kalah sama Pak Mardjo. Saya juga akan menyanyikan lagu dari Campur Sari yang isinya mengandung nasehat agat orang itu harus jujur dan jangan bohong." Pada saat menjabat Asisten Operasi Kasau, Marsekal Djoko Suyanto menerima Ketua PANI Drs. Sumardjo Hidayat, SE, penulis dan pengurus PANI  lainnya. Saat itu kami bermaksud mengajukan konsep buku Pengabdian Alumni Nenggala India. Marsekal  Djoko menyetujui rencana penerbitan dan sekaligus akan meluncurkan buku tersebut. Buku Pengabdian Alumni Neggala India diluncurkan bertepatan dengan acara open house tangal 9 April 2005. Saat itu Djoko Suyanto sudah menjadi Kasau. Marsekal Djoko Suyanto juga kemudian membeli sekitar 500 ekslempar buku tersebut untuk dibagikan kepada para pejabat TNI AU.

Kenangan di Grogak

Penulis juga mempunyai kenangan dengan Marsekal Djoko Suyanto. Salah satu di antaranya adalah pada upacara pembukaan Buleleng Fly In 2001 di airstrip Grogak, Buleleng,Bali. Di panggung tempat para VIP duduk, Marsekal Muda Djoko Suyanto yang saat itu menjabat sebagai Panglima KOOPSAU  II memanggil penulis dengan kode melambaikan tangan. "Apa kabar Pak Mardjo, masih menulis dan memotret?" katanya pelan begitu penulis telah berada di dekatnya. "Masih Marsekal dan sebagai reporter di majalah Angkasa, saya masih aktif menulis," jawab penulis. Lalu beliau berkata lagi sambil melirik kepada Meneteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, Bpk I Gede Ardika. "Pak Menteri sejak saya pangkat letnan satu saya sering difoto oleh Pak Mardjo ini, sampai sekarang lho. Saya bintang dua dia tetap masih memotret di mana saja ketemu," ujar Djoko Suyanto. Marsekal Madya Tamtama Adi yang kebetulan duduk di sebelah kiri Menbudpar saat itu turut menimpali, "Memang di mana-mana saya ketemu Pak Mardjo. Waktu di Timtim dia sudah memotret, sampai sekarang saya masih dipotret di mana saja ketemu dengan Pak Mardjo," ujar Marsekal Tamtama Adi. Kini, setelah terbetik kabar bahwa Komisi I DPR RI telah menyetujui pengajuan Marsekal Djoko Suyanto sebagai calon Panglima TNI, lega rasanya hati ini. Sebagai "teman" beliau sejak berpangkat Letnan I, saya boleh mengatakan bangga. Sosok yang ramah dan low profile itu ternyata dipercaya memimpin Tentara Nasional Indonesia. Apalagi, ini adalah sejarah. Bahwa untuk kali pertama, seorang putra terbaik TNI AU diberi kepercayaan untuk memimpin TNI. Bagi Djoko kecil, menjadi Panglima TNI mungkin tak ternah terimpikan. Djoko kecil yang sederhana hanya punya satu cita-cita yang sederhana pula, yakni menjadi prajurit TNI AU yang profesional.

Kontak Kami

Kementerian Koordinator
Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
Republik Indonesia

Jl. Medan Merdeka Barat No. 15
Jakarta Pusat 10110
Telp. 
 021-3521121, 021-3520145

Copyright 2009 by Kemenko Polhukam