 |
 |
|
Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum & Keamanan
Jl. Medan Merdeka Barat No. 15
Jakarta Pusat 10110
Telp. 021 - 3521121, 3520145

|
|
 |
|
 |
|
|
MULAILAH DARI DIRIMU SENDIRI
Author :: Fathian Haroem
Date :: Tue 01/31/2012 @ 11:03
|
|
|
Semua mungkin sepakat kalau membaca atau mendengar berita-berita dari media massa, seolah-olah sekarang ini di negara yang bernama “Republik Indonesia” akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena hampir setiap hari kita mendengar berita tentang korupsi yang sulit diberantas, bentrok massa terjadi dimana-mana, aksi unjuk rasa yang anarkhis dan mengganggu kepentingan umum, para penggede negara yang kurang akur yang kesemuanya itu mencerminkan moral yang tidak terpuji. Banyak kalangan yang lebih mementingkan diri sendiri atau golongannya, kurang memperhatikan orang lain, lebih-lebih memikirkan kaum lemah.
read article
Saya menjadi ingat kata-kata pujangga Jawa yang bernama Ronggo Warsito. Beliau pernah mengatakan “Saikine jaman edan, sopo sing ora ngedan ora keduman. Sak bekja-bekjaning wong ngedan isih bekjo wong sing eling lan waspodo” Ungkapan Ronggo Warsito ini saya nilai sebagai nasehat untuk kita bersama. Jadi meskipun kita hidup di tengah-tengah orang yang serba mengikuti hawa nafsu, menumpuk harta meskipun harus mengambil hak orang lain dan melanggar moral serta mementingkan diri sendiri, namun kita diminta untuk tetap ingat kepada ajaran Yang Maha Kuasa. Kita harus tetap istiqamah, pegang teguh pendirian dan tak terjebak dengan kemewahan duniawi. Rasulullah SAW juga pernah bersabda “Ibda’ binafsik” yang berarti mulailah dari dirimu sendiri. Jadi kalau kita tidak setuju dengan perilaku masyarakat sekitar, maka kita cukup diam dan tidak melibatkan diri serta melakukan sesuatu yang menurut kita bias memperbaiki keadaan. Semoga ajakan Rasul dan Ronggo Warsito itu dapat diikuti oleh kita semua. ( Fathian Haroem, 31 Januari 2012).
|
|
|
|
|
|
|
Kita Versus Korupsi
Author :: Bung Komar
Date :: Fri 01/27/2012 @ 01:55
|
|
|
Bangsa ini sepertinya kehabisan akal untuk melawan dan memberantas korupsi. Jangankan untuk membasmi hingga ke akar-akarnya, permukaannya sekalipun belum mampu kita kupas habis. Korupsi ada dimana-mana dan selalu di hadapan kita. Kita tidak perlu mencari sumber-sumber korupsi karena peluang-peluangnya selalu datang menggoda kita. Korupsi datang dengan tawaran kekayaan dan kenikmatan hidup yang pasti, sementara kejujuran belum mendapatkan kehormatan yang layak baik oleh negara maupun masyarakat. Kejujuran sementara ini masih merupakan kebanggaan pribadi orang-orang tertentu.
read article
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan berbagai cara dan telah menerapkan jurus-jurus yang ada padanya. Telah banyak yang dilumpuhkan tetapi bilangan musuh yang tersisa tidak dapat terhitung. KPK menjadi pendekar tunggal di rimba persilatan korupsi. KPK tidak hanya menghadapi musuh-musuh yang jelas, tetapi juga kemungkinan serangan dari teman seperguruannya. KPK sangat membutuhkan dukungan dari pendekar-pendekar lain, dan itu adalah kita. Kita semua yang masih peduli dan mau menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran.
Itulah sepertinya misi yang diemban oleh film berjudul, ”Kita Versus Korupsi” yang diproduseri bersama oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), USAID, dan Transparansi Indonesia. Film K vs K ini diputar secara perdana di gedung bioskop XXI Djakarta Theater, 26 Januari 2012. Film ini dibintangi oleh Nicholas Saputra, Ringgo Agus Rahman, Tora Sudiro, Revalina S. Temat, dan lain-lain.
Film K vs K terdiri dari empat fragmen yang setiap fragmen disutradarai oleh sutradara yang berbeda. Pada fragmen pertama menceriterakan bagaimana seorang kepala desa terjerat oleh pengusaha yang telah membantunya terpilih sebagai kepala desa. Kepala desa akhirnya harus mengingkari janji-janji [politiknya untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat, bahkan sang Kepala Desa dengan tega harus menggusur warganya sendiri termasuk kekasihnya demi untuk pengembangan kawasan yang dilakukan oleh pengusaha.
Pada fragmen kedua menceriterakan bagaimana orang-orang yang menggampangkan suatu urusan dengan menyogok orang dalam sehingga tidak perlu memenuhi persyaratan administrasi yang disyaratkan. Kemudian pada fragmen ketiga diperlihatkan bagaimana mirisnya kehidupan keluarga seorang karyawan swasta yang jujur (Tora Sudiro) di tengah-tengah rekan kerjanya yang korup. Dan Pada fragmen terakhir ditampilkan bagaimana perilaku korupsi juga telah masuk ke lembaga pendidikan melalui praktek penjualan buku pelajaran oleh guru yang dibantu oleh siswa.
Terlepas dari persoalan apakah film ini akan dapat mengubah perilaku korupsi dan atau dapat mendorong masyarakat untuk bersama-sama memerangi korupsi, satu hal yang menggembirakan bahwa industri film nasional sudah mau mengangkat tema korupsi dalam produksi film nasional. Menurut Teten Masduki dalam kata sambutannya sebelum pemutaran perdana film ini, dengan tegas mengritik industri perfilman yang hampir tidak pernah menampilkan persoalan korupsi, padahal persoalan tersebut sudah cukup terlihat jelas dalam keseharian.
Kita semua tentu berharap masyarakat yang menonton film ini akan terinspirasi untuk tetap teguh berprilaku jujur dan bersedia melakukan sesuatu untuk melawan korupsi. Sayangnya film ini tidak menampilkan bagian-bagian dimana koruptor mendapatkan sanksi hukum ataupun sanksi sosial karena perbuatan korupnya. Film ini juga tidak menunjukkan bagian dimana mereka yang berprilaku jujur akan mendapatkan kebahagian dan ketenangan hidup. Kita berharap film-film bertema anti korupsi dapat menggali lebih dalam lagi persoalan-persoalan ini sehingga lebih mengena dalam menciptakan kultur kejujuran dalam masyarakat Indonesia. (Bung Komar)
|
|
|
|
|
|
|
Yang Penting Kontribusi Bukan Hanya Kritik
Author :: Fathian Haroen
Date :: Wed 01/25/2012 @ 08:54
|
|
|
Banyak kasus tidak sedap yang terjadi di negeri ini, mulai dari tawuran, bentrok massa, pemerkosaan sampai pada kasus korupsi yang nyaris tiap hari terdengar dan muncul di media massa.
read article
Tapi anehnya semua kejadian tidak sedap itu kembalinya ke Presiden SBY. Semua seolah-olah kesalahan SBY. Kita sependapat bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah pemimpin bahkan top leader di negeri ini, namun sudah barang tentu beliau mengangkat pembantu-pembantu untuk juga memikul beban berat yang harus diatasi. Di Provinsi ada Gubernur dan di Kabupaten/Kota ada Bupati dan Walikota. Jadi tentu saja negeri yang amat kuat ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh seorang Presiden. Gubernur, Bupati dan Walikota juga harus bertanggung jawab atas stabilitas politik dan keamanan di wilayahnya. Demikian juga para politisi, tokoh masyarakat dan segenap komponen bangsa harus berkontribusi dalam memelihara stabilitas politik dan keamanan. Jadi kontribusinya yang penting bukan asal kritik.
|
|
|
|
|
|
|
KEDEPANKAN KEPENTINGAN NASIONAL
Author :: SuperUser Account
Date :: Thu 01/19/2012 @ 02:05
|
|
|
Pemilukada di Aceh akan berlangsung tanggal 16 Pebruari 2012. Sungguh merupakan waktu yang singkat untuk melakukan persiapan-persiapannya. Keputusan Mahkamah Konstitusi baru-baru ini dalam menanggapi gugatan Menteri Dalam Negeri telah memberi peluang selama tujuh hari bagi parpol untuk mengajukan calon untuk menngikuti pemilukada di Aceh. Konsukwensi dari pemberian peluang tersebut dapat mengakibatkan pelaksanaan Pemilukada diundur. Disinyalir bahwa berbagai gangguan keamanan yang terjadi di Aceh akhir-akhir ini terkait dengan pelaksanaan Pemilukada. Ada sementara pihak yang mengatakan bahwa gangguan keamanan itu dimaksudkan untuk menciptakan situasi yang kurang kondusif bagi penyelenggaraan pemilukada di Aceh, sehingga pelaksanaannya terpaksa ditunda.
read article
Melihat berbagai kondisi yang ada, muncul pertanyaan “apakah kalau pelaksanaan pemilukada diundur lantas kondisi Aceh akan tetap aman?”. Kelihatannya baik ditunda maupun tidak ditunda, pelaksanaan Pemilukada di Aceh akan tetap berpotensi menimbulkan persoalan. Oleh karena itu melalui tulisan ini, saya menghimbau kepada semua pihak agar mengedepankan kepentingan nasional. Aceh yang akhir-akhir ini dapat terjaga keamanan dan kedamaiannya jangan ternodai dengan kepentingan beberapa elite politik. Aparat keamanan perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengantisipasi secara professional terhadap berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. ( Fathian Haroem, 19 Januari 2012 )
|
|
|
|
|
|
|
RANTING-RANTING NKRI. Surat terbuka untuk saudara sebangsaku di Papua
Author :: Bungko Dewa
Date :: Wed 11/30/2011 @ 07:59
|
|
|
Saudaraku,
Philips Turandy…!
Rasanya baru
sebulan lebih aku tinggalkan tanah Papua, tapi kerinduanku untuk berkumpul
mulai menagih. Aku teringat bagaimana kita makan papeda bersama, sementara
saudara-saudara kita yang lain menyaksikan penuh selera, padahal di hadapannya
telah tersedia nasi panas dan ikan gurame goreng. Mereka tentu bertanya-tanya
bagaimana nikmatnya papeda, tetapi mereka tidak bertanya dan kitapun tidak
menjelaskan. “Mereka seharusnya mencoba,
agar bisa merasa,” itu kata-katamu.
read article
Aku juga
teringat bagaimana kita menikmati air kata-kata (bir kaleng) di terasmu. Matamu
merah, wajah hitammu juga mulai memerah dan kau masih berusaha membuka kaleng lainnya.
Aku menahan tanganmu dan kita saling tatap. “Kita minum untuk bersenang-senang.
Nikmatilah sekedarnya, jangan sampai kita mabuk dibuatnya. Bagaimana kita bisa
menikmati kesenangan ini kalau kita mabuk,” itu kata-kataku. Terimakasih kasih
kau mau mendengar. Kita saudara sebangsa memang wajib untuk saling
mengingatkan. Beberapa kali hal itu sudah kita lakukan bersama.
Saudaraku….!
Tetaplah fokus
membangun kehidupanmu, menyekolahkan anak-anakmu. Tuhan telah memberikan
hamparan bumi ini untukmu dan untuk kita semua. Jangan biarkan dirimu larut
dalam kegalauan karena kehadiran para pendatang. Mereka adalah saudaramu yang
dapat kau jadikan partner dan guru. Aku ingat daerah asalku, suatu perkampungan
di jazirah Sulawesi Selatan. Suatu kabupaten yang dikarunia berlimpah hasil bumi.
Masyarakatnya hidup berkecukupan sandang dan pangan. Alam begitu memanjakan
masyarakatnya sehingga membuat mereka malas bekerja. Namun seiring berjalannya
waktu, para pendatang masuk dan mengajarkan kami bagaimana mengelola hasil bumi
sehingga dapat memberi nilai tambah, bukan hanya sekedar untuk konsumsi
masyarakat. Para pendatang pula yang
mengajarkan kami bagaimana cara berniaga, bagaimana menjadikan rotan tidak
hanya sekedar tali pengikat tetapi juga menjadi furniture, bagaimana menjadikan
tanah liat menjadi batu bata, dan bagaimana mengambil bagian penting dalam
setiap geliat pembangunan.
Saudaraku….!
Ingatlah….!
Negara kita begitu besar. Jangan pula kita kecilkan dengan membentuk negara
dalan negara. Pace tentu masih ingat waktu kita duduk minum kopi di bawah pohon
rindang di depan kantor Gubernur Papua. Pohon besar itu memberikan kita
perlindungan dari teriknya mentari.
“lihatlah
akar-akarnya begitu besar tampak di permukaan tanah. Coba kita bayangkan
bagaimana akar-akar pohon itu mencengkeram dan merambati tanah untuk mencari
air dan makanan, sehingga batangnya dapat kokoh berdiri dan tinggi menjulang.
Dari batang yang kokoh tumbuh banyak cabang. Dari setiap cabangnya tumbuh
cabang-cabang lainnya yang setiap saat menjadi semakin kuat. Dari setiap
cabangnya tumbuh ranting-ranting. Dari ranting-ranting tumbuh ranting-ranting
kecil lainnya. Dari ranting-ranting kecil ini tumbuhlah daun yang rimbun yang
memberikan kita perlindungan dan keteduhan. Ranting-ranting itu ada yang
bertempat di bawah, di tengah dan di atas sehingga daun yang dihasilkan
berlapis-lapis. Ranting-ranting itu ada yang berdekatan bahkan bersinggungan, tetapi
lebih banyak ranting-ranting yang saling berjauhan dan menjauh. Bagaimana
mendekatkan dan menyatukan ranting-ranting itu. ?”
“Ranting-ranting
itu sudah menyatu dalam pohon,” jawabmu ketika itu.
“Jawaban
sekenanya tapi mengena. Betul saudaraku. Ranting-ranting itu punya cara yang
sederhana untuk dekat dan menyatu. Setiap ranting merasa sadar dan sadar merasa
bahwa mereka berasal dari batang pohon yang sama.”
“Papua ini
berbeda, Daeng”
Aku suka setiap
kali kau menyapa dengan sebutan, Daeng sebagaimana aku bahagia menyapamu
dengan, Pace. “Kita berbeda setiap kali berpikir berbeda. Kita akan sama setiap
kali kita berpikir sama. Saudara kembar selalu menemukan perbedaan jika ia
mencari-cari perbedaannya. Sementara kita berdua menemukan banyak persamaan. Ingatlah
apa kata Ernest Renant, bangsa hakikatnya lahir dari masyarakat yang memiliki
kesamaan di banyak hal, dan melupakan banyak hal yang berbeda. Masyarat Indonesia
lahir dari dua entitas besar, yaitu keberagaman dan keberagamaan. Wajar jika
ada kecenderungan untuk saling menonjolkan identitas masing-masing. Asalkan
jangan menganggap diri paling berharga dan yang lainnya menjadi berbeda”
Saudaraku…Philips
Turandy
Bukankah kita
sudah sepakat bahwa pilihannya hanya ada dua, kita ingin beda atau kita ingin
sama. Kalau kita ingin beda, maka kita akan mengingkari fakta-fakta tentang
kesamaan kita. Kalau kita ingin sama, marilah kita lupakan hal-hal kecil yang
berbeda.
Lihatlah
bagaimana saudara-saudara kita yang berusaha mematahkan ranting-ranting. Mereka
coba mengumpulkan dan menyatukan ranting-ranting patah dalam ikatan yang mereka
labeli dengan berbagai argumen. Waktu berjalan, waktu memberi pelajaran, dan
waktu membuktikan bahwa ranting-ranting yang sengaja mereka patahkan itu lama
kelamaan hanya akan menjadi ranting-ranting kering yang menjadi kerontang dan
lapuk dimakan tanah. Sejarah akan terus bergerak, dan sipematah ranting masih
akan terus bermunculan. Inilah mungkin dinamika berbangsa yang harus kita
lalui. Kita boleh saja bersedih dengan kondisi seperti itu, tapi percayalah
bangsa yang besar ini akan merangkul warganya, dan mereka yang keliru akan
menemukan jalan kembali yang terbaik. Sementara kita yang tidak punya kuasa,
cukuplah berdoa agar ranting-ranting NKRI tetap kokoh pada cabang dan
batangnya.
Saudaraku…..!
Jika
saudara-saudaramu menyerukan “merdeka”. Sambutlah seruan ini dengan mengatakan,
“Setiap hari kami merayakan kemerdekaan ini dengan bersyukur. Kami merdeka
untuk berbicara, kami merdeka bekerja dan mencari nafkah, kami merdeka untuk
mengecap pendidikan, kami merdeka berinteraksi dengan saudara-saudara kami dari
berbagai daerah, kami merdeka untuk bertempat tinggal dimana saja di wilayah
Indonesia ini, kami merdeka menduduki jabatan penting dalam negara ini melalui
proses demokrasi yang disepakati bersama.”
Saudaraku…Philips
Turandy…!
Selalulah
kabarkan diri dan lingkunganmu agar kami juga mengabarkan banyak hal di sini.
Hormat kasih.
Bungko Dewa
|
|
|
|
|
|
|
 |
|